Monday, July 8, 2013

Cerita Mun'Im Idris Saat Autopsi Mahasiswa Trisakti Korban Penembakan

Jakarta - Suasana di Jakarta di malam penembakan mahasiswa Trisakti sangatlah mencekam. Pakar forensik dr. Abdul Mun'Im Idries yang ikut mengautosi menceritakan bagaimana menakutkannya keadaan saat tertembaknya empat
mahasiswa itu.

Kisah itu ditulis Mun'im melalui bukunya 'Indonesia X-Files, Mengungkap Fakta dari Kematian Bung Karno Sampai Kematian Munir' yang dilaunching di Perpustakaan UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (27/6/2013).

Saat kejadian, Mun'im mendapat telepon dari Kasat Serse Polres Metro Jakarta Barat Idham Aziz, untuk mengautopsi jenazah korban penembakan. Ia disuruh menunggu di pos polisi Terminal Grogol.

Selama menunggu Mun'im dihubungi oleh Kapolres Jakarta Barat, Timur Pradopo dan Kapolda Metro Jaya, Hamami Nata. Ia disuruh menunggu sebelum diperintahkan melakukan autopsi. kemudian Mun'Im pun berangkat menuju RS Sumber Waras dengan membonceng motor petugas.

Ditengah perjalanan Mun'Im merasakan keanehan. Petugas yang membawanya memilih untuk
melalui jalan tikus, padahal saat itu keadaan tengah sepi dan seharusnya
mereka bisa langsung lurus menuju RS Sumber Waras

"Pak dokter, kita tidak tahu siapa kawan siapa lawan. Ini semua demi keselamatan dokter," ungkap si petugas kepolisian yang mengantarnya.

Sesampainya di rumah sakit Mun'im bertemu dengan mahasiswa dan keluarga korban. Mereka semua menolak untuk diadakanya pemeriksaan bedah mayat.

Setelah Mun'im berusaha meyakinkan keluarga, akhirnya pemeriksaan pun dimulai.
Setelah melakukan pemeriksaan sekitar 90 menit, Mun'im mendapatkan hasil. Masing masing mendapat luka tembak pada daerah mematikan, bukan untuk melumpuhkan.

Usai pemeriksaan, Mun'im kembali ke ruang administrasi, disana, Mun'im bertemu dengan Marzuki Darusman dan Amaral yang pada saat itu menjabat sebagai ketua dan sekretaris jenderal Komnas HAM.

Saat bertegur sapa dengan Marzuki Darusman, dia menerima SPVR (surat permintaan Visum et Repertum) dari
kepolisian. Anehnya SPVR yang diterimanya sebanyak 6 buah sedangkan korbannya hanya ada 4. Selain itu tidak ada identitas para korban dan yang tertera hanya tanda tangan penyidik.

"Maaf pak dokter, kami tidak tahu berapa korban yang tewas dan kami juga tidak tahu nama para korban" jawab petugas Polres Jakarta Barat.

Seusai jumpa pers, pukul 4 pagi Mun'im sudah dijemput oleh petugas dari Polres Jakarta Barat. Saat Mun'im meminta untuk diantar pulang, petugas Kasat Serse Polres Metro Jakatra Barat malah mengantarnya
menuju Polda. Setibanya di Polda, di lantai pertama Mun'im berjumpa dengan Sudi Silalahi dari
Kodam V jaya, kemudian dia menuju ruang Kapolda.

Saat itu dia hanya berdua dengan Hamami Nata, kemudian Mun'im membuka pembicaraan dengan menyampaikan hasil autopsi.

"Saya sudah perintahkan kepada semua anak buah saya agar mereka tidak menggunakan peluru tajam. Mereka yang menghadapi pengunjuk rasa hanya dibekali peluru karet atau peluru hampayang terbatas jumlahnya. Dari mana datangnya peluru ini?" Ungkap Hamami Disitu Mun'I'm berpikir kalau Kapolda dikerjain.

Endro Cahyo - detikNews
Sumber: detikNews



No comments:

Post a Comment